Saturday 04th of September 2010
Home
Selamat Membaca
|
Runtuhnya NU Politik Pragmatis |
|
|
|
|
Sunday, 19 July 2009 23:45 |
|
Oleh Hasibullah Satrawi Menjelang pemilihan presiden (Pilpres) kemarin, penulis mendapatkan sejumlah pesan pendek (SMS) dari beberapa aktivis muda NU di bebera daerah. Melalui pesan pendek ini, beberapa aktivis muda NU di daerah menyampaikan kegelisahan mereka terkait dengan mobilisasi warga nahdliyyin yang dilakukan oleh pengrurus NU di daerah. Dengan sedikit bercanda, penulis membalas beberapa pesan pendek tersebut; NU dilahirkan untuk politik keumatan dan kebangsaan. Inilah arah NU yang digariskan oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari. Siapa pun yang membawa NU ke luar dari khittah ini untuk kepentingan politik pragmatis, maka yang bersangkutan akan menanggung dampak buruknya (bala`) dan akan kalah. Jangankan hanya kader NU yang maju sebacai Capres (seperti dalam Pilpres sekarang), ketua PBNU pun yang maju sebagai Cawapres (seperti dalam Pilpres sebelumnya) dan menggiring NU ke ranah politik pragmatis, terbukti gagal. |
|
Last Updated on Monday, 20 July 2009 00:07 |
|
Read more...
|
|
|
Menakar Visi Politik Pembangunan |
|
|
|
|
Thursday, 09 July 2009 00:35 |
|
Oleh : Mahmud Syaltout Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 menjadi sangat menarik di samping karena rakyat dapat memilih langsung pemimpin negara untuk kedua kalinya juga karena dibawanya isu politik pembangunan dalam perdebatan capres-cawapres. Perdebatan isu politik pembangunan ini menjadi sebuah pertanda positif bahwa bangsa Indonesia semakin dewasa dan modern dengan meninggalkan isu-isu politik abad pertengahan, seperti tentang asal-usul, jender, dan agama atau kepercayaan. Namun sialnya, isu politik pembangunan ini baru sampai taraf pertarungan slogan. Istilah neoliberal seolah menjadi sinonim kata ”kafir” dan dijadikan alasan untuk menolak calon tertentu. Seorang capres dan atau cawapres yang mengaku neoliberal dianggap telah melakukan dosa besar dan oleh karena itu perlu dijauhi, dikutuk, atau dibuang layaknya para penyihir abad pertengahan. |
|
Last Updated on Thursday, 09 July 2009 00:50 |
|
Read more...
|
|
|
Dari Sekularisme ke Politisasi Agama |
|
|
|
|
Sunday, 05 July 2009 11:43 |
|
Oleh Sumanto Al Qurtuby Dalam sebuah konferensi di forum the Middle East Studies Association of North America tahun 1993, aktivis dan feminis Mesir, Nawal Sa’dawi (l. 1931) mengatakan, “there are no secular states. All states are religious.” Pernyataan Sa’dawi yang merupakan salah satu proponent “Islam progresif” ini tentu saja sebuah sindiran: sindiran terhadap para rezim dan elit politik, birokrat dan tokoh partai yang tampil “agamis” tidak hanya di negara-negara berbasis Muslim tapi juga di negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Jamak diketahui jika AS, negara yang dianggap sebagai “kampium demokrasi” dan “sarang sekularisme,” dalam realitas politik-nya juga tampil sangat “religious” tidak hanya “Republicans” yang memang dikenal sangat “agamis” dan konservatif, bahkan bagi para pendukung Partai Demokrat itu sendiri yang dipandang “liberal” juga tampil religious dalam pengertian mengapresiasi simbol-simbol, jargon, dan diskursus keagamaan dalam arena politik sekuler. |
|
Last Updated on Sunday, 05 July 2009 11:45 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 9 of 14 |
Humor Kita
Sumber Pustaka
msnbc.com Video Player
Powered by Copy Right KNU-ASK 2008.